Makna Q.S. Al Fatihah

Mukadimah

Al Fatihah, surat yang sangat dihafal oleh banyak kalangan. Bahkan merupakan surat yang pertama kali dihafal oleh anak-anak kita. Surat yang juga diwajibkan dalam setiap rakaat sholat kita, yang kalau tidak membacanya, maka tidak sahlah sholat kita. Laa sholata illa bifaatihatil kitab. Minimal 17 kali kita membacanya dalam setiap sholat. Saking hafalnya kadang-kadang kita membacanya dengan sangat cepat dan saking sudah lamanya kita kenal dengannya, kita merasa tidak perlu lagi mempelajarinya dan mengenalnya lebih dalam lagi. Bahkan kita menganggap Al Fatihah hanyalah seperti bacaan-bacaan lainnya yang tanpa makna.

Tidak, jangan begitu! Al Fatihah adalah pintu gerbang. Kita tidak bisa masuk kedalam istana kebahagiaan dunia dan akhirat tanpa melalui pintu gerbang ini. Seandainya hanya Al Fatihah saja yang kita pelajari dan dalami maknanya, Insya Allah, cukuplah bagi kita untuk tunduk dan patuh dalam beribadah kepadaNYA, cukuplah bagi kita untuk mendapatkan ketenangan hidup di dunia dan akhirat. Karena didalam Al Fatihah sudah terkandung pokok-pokok ajaran dalam al Qur’an secara keseluruhan.

Tulisan ini hanya setetes dari Lautan Makna dalam Al Fatihah. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

1. Bismillahirrohmanirrohim

Ayat pertama ini sangat erat kaitannya dengan niat seseorang. Kullu amrin dzii baalin laa yubdau bibismillahirrahmanirrahim fahua aqtha’, Setiap sesuatu yang baik tanpa di awali dengan Bismillahirrahmanirrahim maka terputus atau tertolak. Kita diberi palajaran oleh Allah, bahwa setiap langkah dalam kehidupan ini hendaknya didasari dengan niat atas nama Allah. Niat yang baik adalah tidak lain dan tidak bukan bahwa segala tindakan dan amal perbuatan kita hanyalah untuk beribadah kepadaNYA. Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun.

2. Alhamdulillahi Rabbil Alamin

Setelah kita berikrar untuk selalu niat yang lurus dalam kehidupan ini, maka selanjutnya kita disadarkan olehNYA bahwa tiada kepemilikan yang mutlak kecuali kepemilikanNYA. Harta, anak, istri, suami, dan bahkan diri kita sendiri hakikatnya bukan milik kita. Mereka semua hanyalah titipan dari Allah SWT sebagai sarana beribadah kepadaNYA. Orangtua diberi titipan anak supaya orangtua tersebut bisa beribadah, dengan sarana anak, dengan cara mendidiknya dengan baik. Seorang suami atau istri diberi amanat untuk dapat beribadah melalui sarana pasangannya masing-masing. Tumbuhkan terus kesadaran seperti ini. Karena dengan kesadaran seperti ini hidup kita menjadi lebih tenang. Ketika salah satu titipan Allah diambil sang pemiliknya, kita tidak menjadi stress akibat kehilangannya.

3. Arrahmanirrohim

Tentunya, dalam “beribadah” tersebut kita jangan melupakan unsure Rahman dan Rahim ( kasih dan sayang). Nabi Muhammad sendiri  diutus oleh Allah sebagai Rahmat bagi seluruh alam. Dalam membina keluarga, mendidik anak-anak, dalam bermasyarakat hendaklah prinsip Rahman dan Rahim ini menjadi prinsip pertama dan utama. Nabi bersabda: Barang siapa yang menyayangi apa yang ada di bumi, maka akan di saying oleh apa yang ada di langit.

4. Maaliki yaumiddiin.

Allahlah pemilik dan yang merajai hari pembalasan. Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup yang kekal dan abadi dan merupakan tempat menuai segala amal perbuatan kita adalah nanti di akhirat. Hendaklah kita tetap sadar dengan balasan dan ancaman Allah di hari akhir nanti. Dengan kesadaran yang terus menerus tentang hal ini, diharapkan kita selalu berhati-hati dalam setiap amal perbuatan kita. Kita juga nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diamanatkan oleh Alaah kepada kita baik berupa harta, jabatan, anak, pasangan hidup kita dan bahkan diri kita sendiri.

5. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in

Dalam setiap langkah di kehidupan ini tidaklah selamanya mulus dan lurus seperti yang kita harapkan. Kadang ada duri yang menghalangi langkah kita, kadang menaik dan kadang menurun, kadang pula berkelok. Masalah dalam hidup ini memang hal yang wajar, karena memang sifat dunia adalah ujian. Dalam hal ini janganlah kita berputus asa, walaa taiasuu fii rauhillah. Allahlah pemilik segala sesuatu dan Allah pulalah yang telah menitipkan sesuatu kepada kita. Hanya atas namaNYA kita beribadah, maka hanya kepada Nyalah kita meminta pertolongan. Allah berjanji “ud’uunii astajib lakum”. Istaiinu bishobri washolat, mintalah pertolangan dengan sabar dan sholat.

6. Ihdinash Shirathal Mustaqim

Hal yang palinh utama dalam permintaan kita kepada Allah adalah kita meminta supaya selalu lurus dalam menjalankan kehidupan ini. Lurus dalam mengemban amanatNYA, lurus dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai orangtua, sebagai pendidik, sebagai suami, atau secara global lurus dalam menjalankan fungsi kita sebagai khalifatullahi fil ardh. Jangan sampai terpedaya oleh syaithan yang selalu mengajak kepada dzulumat / kegelapan. Anak-anak dan keluarga jangan sampai menjadi korban dari sikap ketidaklurusan seorang ayah atau suami dengan cara member nafkah dari hasil “ketidaklurusannya” dalam mencari nafkah. Ingat! Maaliki yaumiddin, segala sesuatu akan dimintai pertanggungjawabannya.

7. Shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairul maghdhuubi ‘alaihim waladhaalliin.

Ayat terakhir ini adalah sebagai penjelas dari ayat sebelumnya. Menerangkan siapa saja yang telah menempu jalan yang lurus dan siapa sajakah yang telah menempuh jalan sebaliknya. Ayat ini mengisyaratkan kepada kita semua untuk selalu belajar dan membaca. Membaca pengalaman orang-orang terdahulu maupun membaca kondisi lingkungan saat ini. Kita mengamati jalan orang-orang yang shalih dari kalangan para nabi, aulia, dan shiddiqin dan juga kita membaca dari musuh-musuh mereka. Kita juga terus belajar menggali pengalaman orang-orang yang sukses dalam hidup dan kehidupan sekarang ini dan juga mengamati orang-orang yang sebaliknya. Dengan proses belajar yang terus menerus ini, semoga kita terus meningkatkan kualitas hidup kita menjadi lebih baik di mata manusia dan juga di mata Allah SWT. Aamiin.

PENUTUP

Demikianlah setetes air dalam lautan makna Al Fatihah. Harapan penulis ini akan membawa kita semua lebih khusyu’ dalam menjalankan sholat kita dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan ini. Mudah-mudahan kita semua selalu ditambahkan oleh Allah ketenangan (sakinah) dan Rahmat Allah selalu menaungi hidup dan kehidupan kita. Aamiin. Wallahu a’lam wal ‘afwu minkum.

Oleh : Tyo

(oka_evo@yahoo.co.id)

Satu Tanggapan to “Makna Q.S. Al Fatihah”

  1. Subhanallah, begitu indah makna surat Al-Fatihah.
    Ibu saya selalu bilang sejak kecil, “Nak, jika kamu sedang menghadapi kesulitan atau kegalauan hati, bacalah surat Al-Fatihah sampai hatimu tenang.Insyaallah segala kesulitanmu akan dimudahkan olehNya”.Hal tersebut sudah saya lakukan sampai saya dewasa skr.Alhamdulillah, setiap kesulitan yang saya hadapi, menjadi mudah bagi saya.Amin3x.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: