IDUL FITRI

Saat seluruh umat Islam tengah merasakan kebahagian dan kegembiraan setelah selesainya mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan selama satu bulan. Bila diibaratkan kita seperti seorang prajurit yang baru saja pulang dari medan perang dengan menggondol kemengan. Atau seorang yang baru saja selesai mengikuti training dan ujian yang berat kemudian dinyatakan lulus.

Namun dibalik rasa bahagia dan bangga itu, kita perlu mempertanyakan diri kita masing-masing tentang perubahan sikap dan tingkah laku, apakah yang telah terjadi pada diri kita setelah mengerjakan ibadah puasa. Dengan kata lain, adakah sikap takwa yang merupakan tujuan ibadah puasa benar-benar menghujam kukuh di rongga hati sanubari kita. Atau belum. Nah inilah yang pelu direnungkan.

Ibadah yang baru kita laksanakan hendaknya jangan hanya sebagai ritualitas atau formalitas belaka, meti dijadikan sarana yang ampuh untuk membentuk watak dan kepribadian muslim seutuhnya. Bagaimana tidak, karena puasa telah mengembalikan sikap jujur, solidaritas sosial, akhlak mulia, mengekang hawa nafsu, dan membangun kehidupan jasmani yang sehat. Adakah sikap-sikap tersebut telah melekat pada diri kita. Jika telah ada maka perlu kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap-sikap yang merupakan hikmah dari ibadah puasa tersebut hendaklah tetap kita laksanakan pada bulan-bulan selanjutnya dalam segala aktivitas keagamaan maupun aktivitas sosial kemasyarakatan. Jika sikap-sikap tersebut telah tumbuh dan menjadi bagian dari sikap hidup kita, maka tidak sia-sialah puasa yang kita kerjakan. Dan puasa tersebut benar-benar telah memberi manfaat besar yang dapat dirasakan baik secara individual mapun komunal.

Yang lebih penting dari semua itu adalah dengan ibadah yang dilakukan berfungsi untuk lebih mengenal bahwa diri kita betul-betul tidak ada apa-apanya kalau tiada hidayah dan taufik serta inayah Allah SWT, ibadah puasa itu tidak akan mampu kita melaksanakannya. Dengan demikian kita akan lebih makrifat kepada-Nya dan lebih mendekatkan diri, menghambakan diri kepada Allah SWT. Akhirnya menjadikan kita seorang hamba yang ikhlas dalam beribadah tanpa mengharapkan lipatan pahala. Wallahu ‘alam.

oleh : Tyo (oka_evo@yahoo.co.id)


2 Tanggapan to “IDUL FITRI”

  1. Iya, bener bgt..
    tp terkadang, banyak hal2 yg sangat sulit dilakukan di luar bulan puasa…
    di bulan puasa kita bisa menahan emosi, menahan nafsu untuk membicarakan orang lain..tp sedangkan di luar bulan ramadha,,, masyaallah…hal itu susah bgt di rem-ny… kl uda ngliat org yg agak aneh, uda dech, mulut ini rasanya susah bgt untuk disuruh diem….hehehhe… ^-^

  2. Alhamdulillah, saya termasuk org yg mendapat anugerah di bulan puasa tahun ini. begitu banyak cobaan menghampiri saya, mulai dari salah satu anggota keluarga saya sampai masalah pendidikan saya. meskipun banyak cobaan yg menghadang, saya tetap berusaha untuk maju terus, menahan emosi dan amarah, merendah diri, sabar, ikhlas, serta tawakal.akhirnya semuanya terlewatkan dengan senyuman. saya menatap ke atas langit, ya Allah, betapa beruntungnya hambamu ini masih diberi cobaan untuk menjadi org yg lebih baik. cinta Allah swt adalah segalanya bagi saya.
    semoga qt selalu dekat dg Allah swt sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: